Anak saya susah sekali kalau disuruh belajar. Kalaupun mau, itupun saya paksa. Belajarnya sambil nangis lagi!”
Efektifkah cara anak belajar seperti ini?
Jika anak belajar sambil menangis, marah-marah, melawan dsb itu salah satu ciri ia belajar dengan mengunakan batang otak.
1. Batang Otak
- Letak dekat tengkuk, bagian bawah rambut
- Sering disebut juga reptil ( pinjam istilah bu Ery Soekresno, Psi.)
- Bagian otak ini untuk pertahanan dan perlawanan
Ketika batang otak ( kita sebut saja reptil) ini dipilih anak sebagai jembatan dalam menghidupkan energi belajarnya maka hasil belajar yang diperoleh akan bersifat sementara dengan kata lain sekarang dia ingat, besok lupa lagi atau sekarang dia bisa, besok belum tentu. Anak yang belajar dengan sistim otak ini hanya akan berpikir melawan , bertahan atau kabur.
Cara belajar seperti ini selain tidak efektif juga akan merusak kenyamanan kegiatan pembelajaran itu sendiri. Alhasil tujuan belajar tidak dapat dicapai dengan maksimal.
Ilustrasi
Ibu :ayo belajar!
Anak : Belajar melulu (mengerutu) – menggunakan otak reptil
Ibu : Ibu Bilang belajar! (membentak) – menggunakan otak reptil
Anak : Belajar lagi… belajar lagi… (menangis) – menggunakan otak reptil
Anak dan Ibu melakukan kegiatan belajar dengan suasana tidak menyenangkan ( otak reptil mendominasi)
2. Limbik
- Otak bagian tengah
- Bagian otak emosi
Belajar akan optimal jika sistim limbik ini aktif karena ada pengalaman positif yang dapat menyentuh bagian otak ini. Nyalakan otak sistim limbik ini untuk merangsang belajar dan kreativitas anak!
3. Korteks
- Otak bagian atas
Dengan menghidupkan sistim limbik maka otak korteks pun akan aktif berfungsi menyerap segala hal yang sedang dilakukan/dipelajari. Hasil belajar tidak bersifat temporary tapi menetap, berkesan dan bermakna. Jika kita masih ingat dengan pelajaran sewaktu SD dulu artinya otak korteks lah yang bekerja saat itu karena hasil belajar itu tetap melekat sampai sekarang.
Bagaimana cara mengaktikan limbik dan korteks ?
Hadirkan suasana belajar yang penuh kehangatan, kenyamanan dan cinta.
Ilustrasi:
Ibu : De… ayo belajar nak…
Anak : Belajar melulu, aku kan lagi main bunda… (mengerutu) – menggunakan otak reptil
Ibu : Oke, mainnya berapa menit lagi ya…? – menyalakan limbik
Anak : hmmm… sejuta menit – menyalakan limbik
Ibu :Kalau begitu bunda kasih kesempatan main dulu ya, 15 menit. Setelah itu ade belajar, gimana?-korteks aktif
Anak : Baik bunda- korteks aktif
Bunda : (tersenyum bahagia)
Anak dan Ibu melakukan kegiatan belajar dengan suasana menyenangkan ( otak korteks mendominasi)
***
Wallahu a’lambishowab
Sumber : Seminar STOP kekerasan Pada Anak Melalui Komunikasi & Disiplin Produktif -Narasumber: Ibu Ery Soekresno,Psi ( seorang pendidik, psikolog, konsultan, pengasuh rubrik di NAKITA dan Parents Guide). Ahad, 24 Januari 2010- Al Ikhlas Learning Center